Mudik? Mudah-Mudahan Diberkati

Sebagai orang yang lama tinggal di perantauan, yang namanya mudik tidak pernah terlewat. Mau gak mau si mudik ini sudah jadi agenda tetap tahunan. Sebel? Yah enggaklah. Gimana bisa sebel coba, kalo akan ada banyak detik-detik indah yang akan dilewati bersama orang tercinta.

Mudik memang datang dengan segala ceritanya yang berwarna. Dari persiapan pernak-perniknya, perjalanannya, tempat tujuannya, sampai cerita kembali ke kota asal. Mari bikin mudik kali ini lebih berkesan. Mudah-mudahan kita diberkati

  • Pesan tiket jauh-jauh hari

Beda lho harga tiket yang dibeli pada waktu keberangkatan sama dengan jauh hari sebelumnya. Menurut pengalaman saya sendiri, harga tiket itu tidak pernah sama. Meskipun Anda menceknya di hari yang sama. Perhatikan kapan biasanya Anda sudah bisa libur kuliah atau kerja, lalu pesan. Sampai time-booking yang sudah ditentukan, Anda bisa cari-cari harga tiket lain. Siapa tau ada yang lebih murah.

  • Pilih penerbangan pagi


Entah kenapa ya, tiap berangkat dengan pesawat yang sorean dikit, pasti kena delay. Ini bukan tentang maskapai nya ya. Pernah nyoba pesawat yang agak malam lagi, ehhh malah delay nya maksimal. Kayaknya delay untuk penerbangan sore dan sesudahnya itu merupakan kumpulan delay-delay sebelumnya. Jadi wajar, kalo jeda delaynya amat lama.

  • Bawa makanan berbuka

Karena mudik yang kita maksudkan untuk lebaran, maka pastinya kita berada di bulan Ramadhan. Beberapa maskapai memang menyediakan makanan untuk berbuka, tapi membawa satu botol minuman manis tidak akan memberatkan Anda, kan?

  • Ini sih sebenarnya prioritas tambahan, tapi penting juga dan membawa kebahagiaan bagi mereka yang mendapatkannya. Oleh-oleh. Yups….. Biar tidak terlalu berdesasakan dengan sesama pembeli yang “senasib” seperti kita, membeli jauh-jauh hari juga gak salah. Anda bisa dapat barang yang Anda inginkan tanpa harus kesal karena penjual berbagi perhatian dengan pembeli lainnya. Memberi oleh-oleh/hadiah sendiri juga dianjurkan lho oleh Rasulullah. Mari cek hadits berikut.

“Saling memberi hadiahlah, niscaya kamu akan saling mencintai” (HR Bukhari)

  • Bikin agenda yang jelas

Yang namanya mudik bukan perjalanan untuk tinggal selamanya. Jadi, pastikan waktu yang kita punya selama rentang waktu itu bermanfaat dan berkesan. Keluarga tentunya menjadi prioritas. Teman-teman lama jangan dilupakan. Dengan menjaga silaturahim, insya Allah dipanjangkan umur dan dimurahkan rezeki kita.

  • Berdoa

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dan kepada Dia Sang Maha Penjaga, mari kita serahkan segala yang kita usahakan kebaikannya kepadaNya.

Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. Al-A’raaf: 55-56)

Tahun ini sih gak mudik, tapi senang bisa berbagi pengalaman mudik kepada Anda semua. Semoga selamat sampai tujuan dan uppsss ada yang terlupa. Satu lagi, satu tips yang hampir terlupa: Hati-Hati! :)

Filled Under: Tak Berkategori

Hablun Minallah, Hablun Minannas

Seorang teman yang meghabiskan masa kuliahnya di Al-Azhar, Kairo, Mesir, pernah mengatakan pada saya bahwa masa-masa Ramadhan merupakan masa yang penuh berkah baginya. Bukan saja karena di bulan itu terdapat malam yang jika kita beribadah nilainya lebih dari 1000 bulan, namun karena dia mendapatkan keberkahan langsung didepan mata. Dia bersama mahasiswa Indonesia Mesir lainnya tidak perlu repot memikirkan menu santapan berbuka puasa. Karena pada bulan Ramadhan itu, para penduduk lokal berbondong-bondong mencari orang yang berbuasa untuk berbuka puasa bersama. Mereka meyakini benar kebenaran sebuah hadits yang menyatakan bahwa pahala orang yang memberi makan orang yang berpuasa sama dengan pahala orang yang menjalankan puasa tersebut.

Universitas tempat saya menuntut ilmu, meski bukan berada di negara Arab, tetap menghormati mereka-mereka yang berpuasa dengan cara sederhana yang membahagiakan yaitu dengan menyediakan tajil yang tidak hanya dapat dinikmati oleh mereka saja yang berpuasa tapi juga mahasiswa non-muslim lainnya. Banyak sebenarnya yang bertindak demikian, bukan hanya kampus saya saja. Beberapa mesjid secara rutin selalu menyediakan menu berbuka puasa gratis.

Ini adalah beberapa contoh baik yang dapat kita saksikan menjelang buka puasa. Ketika kita menikmati betul artinya berbagi dan berbuka ala kadarnya dengan apa yang kita miliki saat itu. Tapi dalam beberapa kondisi tak jarang kita berada dalam kondisi yang berbanding terbalik. Ketika buka puasa menjadi ajang balas dendam setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Ketika buka puasa yang sebenarnya juga dapat dinikmati dengan menu sederhana berubah menjadi sebuah “pesta”. Tak jarang, pengeluaran di bulan Ramadhan menjadi meningkat.

Padahal bukan itu esensi ramadhan yang sebenarnya. Ketika kita dalam keadaan lapar dalam keadaan puasa namun kita juga diharuskan bekerja sebagaimana biasa, kita diajak untuk merasakan kesusahan orang-orang yang berada dalam keadaan seperti itu. Ketika kita haus dan banyak godaan untuk menahan marah, kita juga diajak untuk bersabar dan merasakan penderitaan orang-orang bawah yang kelaparan dan tertindas. Kita diajak merasakan kebahagiaan orang-orang yang dapat berbahagia hanya karena mendapatkan sepiring nasi meski tidak tahu apakah ada makanan yang bisa di dapat esok hari. Kita diajak untuk merasakan apa yang mereka rasakan, yang bukan mereka alami dalam bulan Ramadhan saja namun di tiap harinya dalam bulan-bulan lainnya.

Puasa mengajak kita untuk menjadi pribadi sosial yang memiliki kepekaan yang tinggi terhadap saudaranya dan ada banyak yang bisa kita lakukan untuk menjadi pribadi semacam itu. Cara yang dilakukan dengan memberi makan orang yang berpuasa adalah contoh salah satu hal yang mudah yang dapat kita lakukan. Dalam bentuk globalnya, kita dapat meningkatkan kuantitas pemberian, mulai dari tetangga yangmembutuhkan, anak gelandangan di pinggir jalan sampai dengan mengundang anak yatim untuk berbuka puasa bersama. Dalam islam, wujud kepedulian ini diatur dalam satu hal yang disebut dengan zakat. Setiap orang mampu yang mengeluarkan 2,5% dari harta yang dimilikinya. Bayangkan jika semua orang yang berkewajiban melakukannya dan zakat tersebut terdistribusi dengan baik, maka Insya Allah tidak ada lagi masyarakat yang berada dalam garis garis kemiskinan. Insya Allah, mereka-mereka akan sama-sama menyambut Syawal ini dengan perasaan yang sama menuju kemenangan.

Puasa bukan hanya menjadi momentum untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta namun juga momentum untuk menjaga silaturahim terhadap sesama. Dengan berpuasa dengan penuh keimanan dan perhitungan, tidak ada lagi lapar dan dahaga yang sia-sia. Tidak ada lagi obrolan bersama tentang teman yang sok alim itu, tentang tetangga yang baru beli baju baru itu, tentang seorang suami yang selingkuh itu. Uppssss……. Hampir deh puasanya tinggal lapar dan dahaga. Tapi, anda tidak kan?

Mungkin Mereka Tidak Pernah Tau

Dalam sekian detik yang kita punya dalam hidup ini, entah berapa kali kita pernah melukai dan terluka oleh orang lain. Beberapa kali itu mungkin meninggalkan bekas yang dalam di hati kita dan mereka. Membuat kita menjadi canggung untuk bercengkrama dan memulai hubungan seperti sedia kala. Banyak hal yang menyebabkan “beberapa” itu. Jawaban klisenya umumnya disebabkan oleh hal-hal kecil namun amat prinsipil. Yahhh kadang begitulah kita selalu, ketika mencoba mengukuhkan diri sebagai pribadi berkarakter. Prinsipil.

Dan segala kisah dengan amarah, benci, dendam dan perasaan tidak suka yang terpendam tidak selalu berakhir dengan bahagia. Karena itulah kita mengenal kata memaafkan. Bukan hanya berperan untuk menjaga hubungan yang hampir kandas namun lebih untuk menjaga ketenangan jiwa. Pernah membaca Forgive For Good nya Dr. Frederic Luskin kan? Disitu dijelaskan bahwa sikap pemaaf merupakan resep yang telah terbukti baik bagi kesehatan dan kebahagiaan.

Dan memang memaafkan tidak pernah sesederhana seperti yang terlihat. Dan berapa banyak kita telah meminta maaf untuk perbuatan yang kita lakukan? Berapa banyak yang mungkin masih sekedar dalam rencana? Pernahkah kita menghitungnya? Berapa maaf yang kita pikir kita pantas mendapakannya dari banyak orang? Orang yang merendahkan kita, menghina kita, memfitnah kita, mengambil hak kita? Ahhh sudahlah. Sebagaimana kita yang mungkin pernah melupakan perbuatan salah kita, mungkin mereka juga. Mungkin mereka tidak pernah tau bahwa kita terluka dengan kata dan perbuatan mereka. Atau mungkin mereka tidak pernah tau bagaimana cara memenangkan hati untuk mendapatkan maaf kita.

Dan ramadhan ini, dan syawal ini ketika ada banyak  ucapan selamat idul fitri dengan rangkain maaf yang indah terkirim untuk kita, terimalah. Mungkin ini sekedar basa-basi lebaran tetapi maafkanlah. Ikhlaskanlah. Semoga dengan ini jalan kita menuju maaf orang lain dimudahkan. Lagipula, bukankah Allah Maha Pemaaf, maka mengapa kita begitu sombong untuk tetap tidak berdamai dengan mereka?

Sumpah Pemuda: Season Dua

Dualisme adalah sebuah konsep filsafat yang menyatakan adanya dua substansi. Dalam perkembangannya, dualisme tidak hanya terbatas pada pemahaman bahwa alam ini terdiri dari dua macam hakekat, yaitu hakekat materi dan rohani saja. Namun dualisme lebih dilihat sebagai dua keadaan yang berbeda dimana satu keadaan bersifat superior dan keadaan lainnya bersifat inferior dan dua keadaan ini hidup berdampingan pada ruang dan waktu yang sama.


Seiring masuknya sebuah istilah baru bernama globalisasi di Indonesia, penggunaan Bahasa Indonesia dan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, pernah berada dalam situasi seperti ini. Bahasa Inggris berada pada posisi superior, sementara Bahasa Indonesia berada di inferior. Posisi inferior Bahasa Indonesia salah satunya dapat dilihat dari menurunnya kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar yang dimiliki siswa. Sebanyak 1786 siswa SMA/MA atau sebesar 38,43 persen peserta ujian tidak lulus mata pelajaran Bahasa Indonesia dalam Ujian Nasional (UN) 2011. Sementara untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, jumlah siswa yang tidak lulus justru relatif lebih sedikit yaitu sebanyak 152 siswa atau sebesar 3,2 persen. Hal ini cukup mengejutkan mendapati data bahwa siswa lebih menguasai bahasa asing dibandingkan bahasa nasionalnya sendiri.


Proses pergeseran popularitas bahasa Indonesia terjadi dengan banyak faktor yang melatarbelakanginya. Faktor industrialisasi, dimana tuntutan penguasaan Bahasa Inggris adalah suatu keharusan untuk bertahan di era globalisasi semakin tinggi. Faktor ini kemudian menciptakan sebuah trend dimana kemampuan berbahasa Inggris adalah suatu keharusan. Lebih jauh lagi, situasi yang terus dipelihara ini tanpa ada penyaring yang jelas dapat membuat sang pembicara lebih bangga mengucapkan Bahasa Inggris daripada bahasa nasional mereka.


Hal ini berbeda dengan apa yang diamanatkan Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 silam. Dimana Bahasa Indonesia diperjuangkan dan dikukuhkan sebagai bahasa persatuan. “Kami Putra dan Putri Indonesia, Berbahasa Satu: Bahasa Indonesia”. Sebagai bahasa pemersatu untuk bangsa yang terdiri dari berbagai macam suku, sebagai perekat nasionalisme. Kecenderungan menguasai dan berbicara bahasa asing perlu mendapat perhatian khusus.


Dalam hal mempertahankan bahasa nasional, Indonesia mungkin harus melihat negara-negara seperti Jepang, Prancis, Jerman, Italia yang masih mempertahankan bahasa nasional dan sukses membuktikan diri sebagai negara maju. Bahkan meski memiliki banyak siswa/mahasiswa luar negeri, negara tersebut tetap mempertahankan bahasa nasional sebagai bahasa pengantar di kelas. Hal ini secara tidak langsung mengajak para siswa/mahasiswa internasional tersebut untuk mempelajari bahasa negara yang ditinggalinya.


Jika peningkatkan kemahiran berbahasa asing masyarakat tidak diiringi dengan perbaikan kemampuan berbahasa Indonesia, bisa jadi Bahasa Indonesia sebagai pemersatu hanya tinggal kenangan. Pada tanggal 21 juli 2011 lalu, Menteri Pendidikan Nasional, Muhammad Nuh, telah menandatangani nota kerja sama bilateral dengan Menteri Pendidikan China terkait perguruan tinggi bidang bahasa. Negara Inggris juga lebih dulu memiliki kurikulum ini. Jangan sampai terjadi, nanti ketika ada anak Indonesia yang ingin belajar bahasa harus ke luar negeri.


Walaupun bahasa Indonesia sudah diakui sebagai bahasa kebangsaan, tetapi semangat untuk kembali menasionalkan bahasa ini perlu dikembalikan. Inilah saat yang tepat merevitalisasi nilai-nilai sumpah pemuda. Kali ini bukan hanya kesepakatan untuk menentukan harus berbahasa apa, namun lebih kepada mencintai dan menumbuhkan rasa kebanggaan dengan memiliki bahasa Indonesia.

Happy Belated Birthday, LV

Like they said, a birthday is just the first day of another 365-day journey around the sun. So, just Enjoy and amaze the trip, myself :)

PS: Oracle owes me a word

Filled Under: Personal Life

Happy Graduation

elvi-profpic-copy

Yup bener, foto itu asli, pemirsa :) dan “Akhirnya wisuda juga,vi” menjadi kata-kata ucapan selamat terbanyak mengiringi “Happy Graduation”. Jadi ceritanya, tanggal 26 maret ini, lv bersama ratusan wisudawan/wisudawati Institut Teknologi Telkom lainnya dikukuhkan menjadi Sarjana Teknik. Sedikit terlambat guyz karena mustinya menurut kalender akademik, masa studi normal lv adalah agustus tahun lalu. Tapi…… Let’s skip this part hehe… dan here they are, beberapa foto-foto seremonial nya. (Non-formal celebration of course :D )


lempar-toga-copy

Sudah mencari foto bareng teman angkatan dan tidak menemukan yang lebih baik dari ini. Oh ya, lv bukan satu-satunya perempuan yang wisuda di angkatan ini, periode ini. Masih ada tiga teman perempuan lainnya, mbak ezra, cindy dan tcutci. Sayang banget semuanya tidak bisa berkumpul pada tempat yang sama dan pada waktu yang “tidak dan ditentukan” itu.


extensiongraduation-copy


There is time when you feel the moment is not perfect without any gift. And guess what, the best gift I got is meeting my oracle. Oracle said “meeting you was worth a thousand words” with many adlib (adlib = wkwkw), but if I have to say the same word, I would remove the adlib. cuz, it’s really worth it :) And last but not the least: My Self and My Friends, Happy Graduation.

Filled Under: College Life

Me and Hijab

I don’t know when it starts, but seems like i fall into the charms of Hijab for long time ago. And i’m not the only one. Nowadays, it’s really easy to find women with their veils. I hope (for my self) it’s not merely following the trend. Happy “hijabbing” :)

hijab-elvi rahmi

Filled Under: Tak Berkategori

Menuju Negeri Lima Menara

negerilimamenara

Membaca negeri lima menara seperti berjalan antusias mundur ke belakang, dimana akhirnya kita menemukan kembali memori lama yang menyimpan banyak mimpi dan kenangan. Tentu tidak semuanya sepakat dengan pernyataan saya ini, karena mungkin, kita, pada masa yang diberbincangkan itu tidak berbagi kenangan yang sama. Karenanya izinkan saya untuk mengkategorikan pembaca buku ini menjadi dua. Satu, mereka yang murni pembaca, yang tahu buku ini dari berbagai media yang ada, tertarik dan mencoba menyelami kehidupan pesantren yang penuh teka-teki. (teka-teki adalah term dari Andi F. Noya untuk mendeskripsikan salah satu suasana pesantren). Dua, mereka yang tau buku ini dari berbagai media yang ada, pernah menyelami bagaimana kehidupan pesantren yang katanya penuh teka-teki itu dan tenggelam dengan kehidupan di dalamnya. Keduanya sama-sama membaca. Namun bedanya, yang pertama membaca dan membayangkan. Yang kedua membaca dan membandingkan. Tidak ada yang salah dengan menjadi salah satu diantara dua itu. Dan sekedar informasi saja, saya berada di kelompok yang kedua :)


Sebuah novel yang ditulis berdasarkan kisah nyata ini menceritakan bagaimana seorang alif memutuskan untuk merantau ke Jawa Timur, menuntut ilmu di pondok madani. Sebuah keputusan yang awalnya dibuat “hanya” sebagai opsi “daripada” sekolah di madrasah di daerahnya, Sumatra Barat. Dan opsi ini mengenalkan dirinya kepada Raja, Said, Dulmajid, Atang, dan Baso, yang selanjutnya kita akan mengenal mereka sebagai sahibul menara. Bersama kelima sahabatnya, alif bermimpi dan “bertahan hidup” di pondok. Istilah bertahan hidup mungkin sedikit berlebihan, tapi inilah yang mungkin dirasakan bagi seseorang yang jika dulunya pola hidupnya biasa-biasa saja namun kini harus menuruti sistem yang mengatur dirinya selama 24 jam. Disela waktu, mereka kadang duduk dibawah menara sambil saling berargumen menebak dan menerjemahkan gambar awan di langit. Mirip negara apakah awan itu? Sebuah jawaban yang akan anda dapatkan di akhir novel ini.


Ditulis sebanyak 405 halaman, anda tidak akan bosan untuk membaca. Ada saat anda akan tertawa dengan kelucuan-kelucuan kecil mereka; (mungkin) heran dengan sistem ujian yang panjang (trust me, it’s nice); larut dan kagum dalam gegap gempita class six show, sebuah pertunjukan akbar persembahan santri kelas enam; tersenyum kecil menyaksikan romantisme ala santri putra; haru akan ujian dalam persahabatan; iri dalam ukhuwah tulus mereka, terbakar dalam semangat-semangat yang selalu dikobarkan… dalam menghadapi ujian, perlombaan, apapun. Bagian favorit saya sendiri adalah chapter Sepasang Jubah Surgawi. Chapter ini akan membuat anda berfikir ulang tentang apa yang sudah anda berikan kepada orang tua. Bukan hanya sekedar materi, karena kita sedang berbicara tentang bakti. Dan baso yang telah ditinggal ayah ibunya sejak kecil menerjemahkan bakti itu dengan adzam untuk menghafal Alquran. 30 Juz.


“Tahukah kalian, ada sebuah hadits yang mengajarkan bahwa kalau seorang anak menghafal Al-Quran, maka kedua orang tuanya akan mendapat jubah kemuliaan di akhirat nanti. Keselamatan akhirat buat kedua orang tuaku….”


Dan pada akhirnya ini adalah sebuah novel tentang bakti, perjuangan, persahabatan, pendidikan, yang sarat akan banyak hikmah di dalamnya. Dan jika masih ada satu kata yang tersedia, ini adalah tentang bagaimana membangun kepercayaan diri. Mungkih ada banyak orang di luar sana yang menutup dirinya sebagai alumni pondok pesantren karena keraguan masyarakat akan nasib mereka di dunia kerja nantinya, keraguan akan kemampuannya. Tapi novel ini berhasil mematahkan stereotip itu. Membacanya membuat kita bangga terhadap fakta bahwa kita pernah menjadi santri. Semoga sang santri terus bergelar santri dan dapat memperkaya diri dengan berbagai khazanah keilmuan dan kehidupan sehingga nantinya menjadi orang yang berguna bagi orang banyak. Bukankah kita sering mendengar tentang ini, khoirukum anfa’ukum linnaas. Sebaik-baik kalian adalah yang memberi manfaat bagi sesama manusia. :)


Hak cipta gambar disini

Filled Under: Book, Resensi

A Diploma Photo to Remember

pas-photo-complete-copy

Everyone who finished his/her study in college must know this, that we have to provide our picture to be stamped in our certificate of bachelor later. For that sake, i was going to go to photo service to take one or two shoots of photograph. As one of graduate from associate degree, of course i have one. But at that time, i wore blazer and that photo didn’t match my current university’s rule cuz of this statement:

the ladies should use traditional dress in picture

What about the one who wears veil? i wonder. I’m not doing research to know about this ( :D ), but seems like ladies i know tend to obey. They make themselves really pretty with other variation of veils on their heads. I was tempted to do the same. That’s why on the decided date, i went to muslimah beauty shop. My point is not the make up on my face (even though, it’s true ;) ) but the creation of veil. I can make the simple one but i think this time it’s not enough.

The result doesn’t meet my expectation. Unconsciously, i showed the unpleasant face and i asked the lady who help me to redo the veil. She also  showed the unpleasant one but i was decided to not out from that shop till i get the one i like. She redid it. Even though it’s not what i want, at least is better than before.

I knew that i might look weird in the picture with that look but i insisted to be photographed that way. You can look the photo below as the result. Unfortunately (fortunately), i made them blurred hehe

And finally,  i decided to do my veil myself. It’s not as good as professional did, but i knew, i prefer that one.

Filled Under: College Life

Meski “Hanya” Bertahan di Final

sertifikat-tv-one

Well, sebenarnya ini cerita lama. Dan lama banget juga pengen nulis ini di blog, cuma belum sempat aja. Tapi, betapa lama pun itu, sepertinya aku masih ingat deh kalau kata pembuka untuk postingan itu adalah………..

“Well, jika kalian bertanya-tanya kemana hadirku dua hari ini?”

hehe tetep ya, diawali dengan “well“. Jadi, sebenarnya ini cerita keisengan aku waktu ikut audisi presenter TV One daerah audisi bandung. Serius ini iseng karena desember waktu itu adalah desember yang crowded dengan kegiatan penting dan gak penting :D. Tau ada audisi aja dari selentingan kabar di broadcasting club. Itu juga mereka bilangnya ada workshop dan saat itu lagi gak tertarik.

Sadar banget kalau TV One memang pernah ngadain audisi, tapi masalahnya untuk tahun ini, 2010, itu udah dan baru saja. Yahh gak baru-baru aja juga sih. Cuma mustinya kan itu annual event dan namanya annual kan mustinya tahunan. Dan hampir aja aku kehilangan kesempatan kalau seandainya aku gak buka official website nya TV One. Ternyata memang benar guys, ini audisi presenter yang aku maksudkan annual event itu. Wewww.. sepertinya format tahun 2011 akan sedikit berbeda. Upgrade.

Jadi audisi nya itu dua hari. Hari pertama itu semacam survival by interview. Setelah nunggu lama untuk interview, akhirnya tiba juga giliran. Dan sepertinya berhasil mengesankan interviewer dan itu thanks to my arabic. Dia sempat gak percaya kalo aku bener bisa dan nyuruh melakukan introduction dengan bahasa arab. Well, let’s see ;). Malah interviewer ini minta aku melakukan tashrif kata takallama-yatakallamu. Aku cuma tersenyum menang dalam hati. Trus bahasa inggris gak ada pengaruhnya disini gitu vi? Tenang aja guys, the interview was conducted in English. Dan audisi hari itu berakhir dengan:

“Ini kartu nama saya, vi. Hubungin saya kalo sudah lulus”. YES!

Tapi, ada sedikit yang mengganjal di hati. Sang interviewer seringkali bilang “wahhhh … sayang vi, kamu belum lulus kuliah ya”… dan itu beneran berkali-kali. Makanya aku mikir, bukannya ini hanya audisi? ini bukan recruitment kan? kenapa musti mempermasalahkan status kemahasiswaanku? Gak tahu kenapa pokoknya waktu itu masih agak agak gimana dengan kontrak. Dan akhirnya, confused. Terus maju atau tidak ya. Malah aku lupa, kalau sudah janji sama salah satu peserta untuk datang workshop esoknya jam 9, sebelum hadir di audisi kedua jam 1.

Aku datang juga ke audisi, meski telat satu setengah jam. Saat itu lagi pengumuman finalist kesekian dan finalist itu langsung ambil tempat untuk melakukan reportase dan simulasi news anchor, ini salah satu materi tes nya. Tak lama kemudian, sang MC berkata: “Selanjutnya finalist kita kali ini mempunyai nama yang mirip-mirip penyanyi dangdut”…. Langsung deh aku nebak, “hmmm pasti aku..”. Yahhh habis gimana lagi, tau sendiri kan siapa nama lengkap aku. Many people kept teasing me with that since i was small.

“Elvi Rahmiii…. Silahkan maju ke depan”

Dengan persiapan yang super singkat, aku maju ke depan. “Camera… Roll… Action“. Dan begitulah serangkaian tes nya. O ya, kami juga musti melakukan reportase dadakan dengan kasus yang dipilih secara acak. Kasus apa? Variatif. Sebelas berita yang menjadi topik hangat di media waktu itu. Sadar dengan persiapan dan penampilan yang ada, aku gak yakin bakal terpilih sebagai pemenang dan mewakili bandung untuk tahapan selanjutnya, bersaing dengan para pemenang dari jakarta, palembang, malang, yogyakarta, makassar. Bukan apa-apa, kalau menang malu juga, ada yang super bagus. Dan yang super bagus ini memang bagus. Akhirnya dia berhasil membawa bandung menjadi juara pertama kali ini. Karbelani Aulia. Ternyata dia teman protokoler waktu aku masih di universitas padjadjaran dulu. What a small world.

Aku memang hampir lupa dengan cerita ini. Tapi, news bus sepertinya selalu ada dimana-mana (di pikiranku tepatnya), update status, foto-foto tentang news bus dari pihak-pihak terkait gak pernah sepi. Makanya aku kepikiran lagi dan sekarang nyesal kalau dulu gak gunakan kesempatan yang ada untuk menang. Mungkin kita punya alasan ketika kita kalah dan kita anggap itu alasan yang dapat dimaklumi, tidak masalah. Tapi, yang setuju dengan alasan kita itu hanyalah segelintir orang. Dan jika kita tidak meningkatkan kualitas diri, sisanya akan mengenang kita sebagai orang yang kalah. Atau mungkin, tidak terkenang.

Untuk menghibur, seorang teman menulis pesan di dinding facebook ku.

“wkwkwkkwkw td gw liat sepintas audisi TV On* kmrn..ternyata loe hny kalah tinggi dlm ukuran tinggi badan..:p . :ngacir:”

Sialan juga ni bocah, tapi memang itulah kenyataannya hehe… Nih lihat.

elvi-rahmi-on-audisi-presenter-tv-one
Posisi Menentukan Tinggi

Aku yang mana? Yang pake baju hijau. Sebenarnya gak terlalu pendek juga kan. Cuma waktu itu aku lupa akan pepatah: posisi menentukan tinggi

Dan….. meskipun hanya bertahan disini, sebenarnya aku gak kecewa-kecewa banget. Menurut aku, dalam kondisi stabil, default status, kompetisi terukur itu harus diikuti oleh dua orang. Pertama, buat mereka yang punya bakat, tapi gak pede/yakin dengan bakatnya itu. Dia bisa ikut dan lihat antusias juri dan penonton. Ketika menang, aku yakin banget dia bakal terpacu untuk mengikuti kompetisi-kompetisi serupa, kepercayaan diri meningkat, dan pastinya akan ada pengembangan (bakat) yang dicapai. Yang kedua, kompetisi harus diikuti oleh mereka-mereka yang merasa punya bakat dan memang punya serta diakui. Jika mereka menang, itu penghargaan atas usahanya. Jika tidak, mereka tahu ternyata ada banyak orang-orang berkualitas di luar sana dan inilah saatnya untuk mengembangkan diri. Dan sekali lagi, meskipun hanya bertahan disini, aku tetap senang. Setidaknya akhir tahun 2010 tidaklah membosankan. Satu hal yang harus ku ingat dari sini adalah ketika kita telah berniat mengikuti/menjalani sesuatu, maka kuatkanlah niatan itu. Hingga tidak ada kata menyesal nantinya jika kita gagal karena mungkin…. kita tidak (jadi) gagal ;)

Filled Under: Event, Personal Life